Dzikir dan Pikir

Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, bahwa hidup haruslah seimbang antara ikhtiar batin dan ikhtiar lahir. Karena apabila hanya salah satu saja dari ikhtiar tersebut dikerjakan tentunya tidak akan memberikan sebuah syafaat tetapi justru akan memberikan kemudharatan.

Dan Allah telah berfirman di dalam Al Quran tentang keseimbangan di dalam hidup di dunia, firman Allah tersebut sebagai berikut :  “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” ( QS. Al Jumu’ah ayat 10 ).

Bahkan di dalam hadist pun juga ada yang berkenaan dengan keseimbangan di dalam menjalani hidup di dunia ini, yaitu “ Bekerjalah untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati besok “

Jadi sudah sangat jelas sekali di dalam Al Quran dan Al Hadist telah disampaikan tentang pentingnya keseimbangan dalam hidup. Dan keseimbangan dalam hidup inilah yang harus bisa dijalankan oleh Pengamal Riyadhoh Ayat Kursi. Dengan menyeimbangkan ikhtiar batin dan ikhtiar lahir akan memperoleh Kesuksesan di dunia dan akhirat. Karena tanpa ada keseimbangan, hidup akan timpang.

Tulisan kali ini tentang dzikir dan pikir juga bagian dari keseimbangan dalam hidup, yang mana berkaitan erat dengan ikhtiar batin dan ikhtiar lahir. Dzikir dan pikir ibarat roda sebuah kendaraan, roda kendaraan terdiri dari ban luar dan ban dalam. Sebuah kendaraan tidak bisa berjalan dengan baik dan sempurna apabila hanya terdiri dari ban luar saja, demikian juga halnya jika hanya ban dalam saja. Tentunya disini tidak termasuk ban tubeless.

Dzikir merupakan kebutuhan primer atau kebutuhan pokok ruhani (batin). Tapi banyak orang yang melalaikan dan meninggalkan dzikir. Dzikir dilakukan bila ingat saja atau disaat hati sudah lelah menghadapi segala macam masalah hidup. Dzikir hanya sebagai tempat pelarian dari masalah disaat ikhtiar lahir sudah tidak bisa memberikan solusi.

Sementara awal aktifitas dimulai dari ruhani (batin). Yang kemudian diterjemahkan oleh otak dalam bentuk aktifitas verbal (komunikasi) atau pun perbuatan. Semua berawal dari hati, ruhani atau batin.

Dzikir bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun. Tidak harus setelah selesai shalat. Dzikir juga tidak perlu bersuara, dilakukan dengan siri (sirri) pun juga diperbolehkan. Karena dzikir adalah ibadah ruhani (batin-hati), bukan ibadah jasmani.

Sedangkan pikir-an adalah bagian dari manisfestasi atau perwujudan hati (ruhani-batin). Bila hati sedang tidak tenang tentunya pikiran pun menjadi kacau. Semua pasti sudah pernah mengalami di saat hati tidak tenang selalu saja ada yang salah di dalam perbuatan dan perkataan. Entah dalam pekerjaan, pergaulan atau pun dalam hal lain.

Meskipun pikiran bagian dari manisfestasi hati, tapi peran pikiran tidak bisa kita abaikan. Karena pikiran (otak) adalah tempat untuk mengontrol semua panca indera. Tapi tetap fungsi kontrol utama ada dalam hati atau batin.

Untuk itu dari sekarang mari kita mulai untuk hidup seimbang yaitu menyeimbangkan dzikir dan pikir. Dengan memenuhi kebutuhan ruhani dan jasmani secara seimbang akan membuat hidup menjadi lebih sehat, teratur, tenang dan nyaman. Dan tentu akan tercapainya kesuksesan dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat…

Man Jadda Wa Jada ; Barang siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil ! Kejarlah Akhiratmu maka Kau Dapatkan Duniamu.

Bagikan tulisan ini kepada teman – teman anda melalui Twitter, Facebook dan Email.

Sumber : Rahasia Riyadhoh Ayat Kursi