Ikhlas Itu Tidak Mudah

Kompleksitas masalah dalam kehidupan saat ini telah menimbulkan sebuah fenomena psikologi sosial di dalam masyarakat dalam bentuk sikap atau pola pikir Pragmatis. Pragmatis sendiri dalam terjemahan bebas adalah apabila seseorang memberi sesuatu ingin mendapatkan balasan atau imbalan, baik itu dilakukan dengan secara sengaja atau pun dengan maksud tersembunyi. Di dalam bahasa Jawa disebut dengan Pamrih.

Di dalam sebuah bisnis atau perdagangan adalah hal yang umum bila sikap-sikap pragmatisme itu terjadi. Dimana di dalam perdagangan atau bisnis menganut hukum ekonomi yaitu dengan modal kecil mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tentunya istilah “beli satu gratis satu” atau “beli dua gratis satu” pernah anda temui di dalam sebuah promo suatu produk. Dan itu hal yang umum dan wajar.

Tetapi apabila sikap atau pola pikir pragmatisme ini sampai terbawa di dalam sebuah aktifitas ibadah atau amal perbuatan baik tentunya hal ini sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak memprihatinkan apabila bersedekah saja masih ada sebuah pertimbangan dan perhitungan berapa yang harus disedekahkan. Dan ini kembali kepada ironisme tentang mental miskin lebih berbahaya dari miskin harta. Sementara tidak ada seorang pun miskin karena sedekah, justru sebaliknya. Sementara sudah sangat jelas di dalam Islam bahwa setiap penghasilan yang didapat minimal 2.5% hukumnya wajib untuk disedekahkan.

Belum lagi di dalam melakukan ibadah lain baik yang sunnah maupun wajib masih berharap Surga dan Neraka. Saya menjadi teringat lirik lagu dari Ahmad Dhani duet dengan Chrisye dengan judul “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” yang liriknya kurang lebih seperti ini, “ jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya..” lirik bait yang begitu dalam maknanya.

Jadi tidak bisa dipungkiri bila nilai sebuah ibadah dan amal perbuatan baik menjadi sebatas nilai ritual semata, tidak menyentuh dan mengena pada nilai spiritual yang bermuara pada keimanan seseorang.

Allah selalu memberikan balasan berkali-kali lipat pada setiap perbuatan hamba-hambaNya. Dan janji Allah itu pasti ! Jadi tanpa di minta pun Allah selalu memberikan balasan lebih banyak dari setiap perbuatan hamba-Nya.

Lantas mengapa harus masih berhitung didalam bersedekah atau berharap surga di dalam beribadah. Apa pun keadaan yang ada pada diri seseorang saat ini tidak akan pernah mampu menghitung semua rahmat dan nikmat yang diberikan oleh Allah semenjak  dilahirkan hingga detik ini.

Dan… IKHLAS itu memang tidak Mudah….

Semoga bermanfaat…

Man Jadda Wa Jada ; Barang siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil !

Bagikan tulisan ini kepada teman – teman anda melalui Twitter, Facebook dan Email.

Sumber : Rahasia Riyadhoh Ayat Kursi

Iklan