Sedekah Koq Dipaksa

Beberapa hari yang lalu saya mendapat Short Message Service atau SMS dari salah satu teman lama saya. Isi SMS tersebut membuat saya langsung meng-amin-i tanpa harus memahami dan mengurai lagi dengan hati dan pikiran saya. Dimana kebiasaan saya selalu berusaha untuk mencari arti dan hikmah dibalik setiap kejadian, baik itu yang saya alami, saya lihat dan saya dengar. Tetapi kali ini sama sekali tidak saya lakukan.

Berikut cuplikan dari isi Short Message Service atau SMS dari teman saya tersebut, “ Uang 300 ribu terlalu besar bila untuk sedekah, tetapi terlalu kecil untuk belanja ke mall. 60 menit terasa lama untuk beribadah, tetapi terasa sebentar untuk menonton, karaoke dan pacaran “ Mungkin sebagian dari anda pernah membaca tulisan yang hampir sama dengan SMS teman saya tersebut.

Setelah saya selesai membaca SMS atau Short Message Service tersebut, saya kilas balik dalam rentang waktu 4 tahun yang lalu. Dimana waktu itu saat makan siang saya secara tidak sengaja bertemu dengan teman saya tersebut. Karena sudah lama tidak bertemu sehingga banyak sekali cerita yang tersampaikan. Hingga kemudian teman saya cerita akan keluar dari tempatnya bekerja dengan alasan penghasilan yang tidak memadai.

Dengar cerita teman saya tersebut, saya meminta dia untuk bertahan mengingat usia yang sudah tidak memadai lagi bila berpindah pekerjaan. Tetapi teman saya tetap bersikeras ingin keluar dari tempatnya bekerja.

Tetapi kemudian entah mengapa tiba-tiba saya meminta teman saya untuk mengeluarkan dompet dan meminta membuka dompetnya. Tidak pikir panjang saya ambil semua uang yang ada di dompetnya. Teman saya sempat protes dengan apa yang saya lakukan tersebut. Saat itu saya hanya berkata, “ ikhlaskan dan ambil lagi uang di tabunganmu.” Teman saya diam dengan muka wajah bingung. Kemudian saya berpamitan untuk kembali ke kantor sambil menjabat tangan teman saya sembari berkata, “ Ikhlas ya..”

Beberapa bulan berselang pada tahun yang sama, saya mendapat telpon dari teman saya diatas untuk mengajak makan siang bersama. Setelah bertemu, teman saya langsung menjabat tangan erat dan memeluk saya sambil mengucapkan terima kasih. Dia bercerita kalau tidak perlu lagi pindah kerja karena gajinya sudah naik 2 kali lipat dari sebelumnya seiring dengan naiknya karier pekerjaannya. Dan saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah. Dan saya mendapat makan siang gratis dari teman saya, sekali lagi saya mengucap Alhamdulillah.

Tahukah anda berapa uang yang saya ambil dari dompet teman saya tersebut? Uang tersebut senilai 300 ribu rupiah ! Dan Allah telah menggantinya 30 kali lipat dari nilai uang tersebut dengan cara menaikkan karier pekerjaan teman saya, sehingga naik pula penghasilan teman saya tersebut. Dan saya ingatkan teman saya agar tetap Istiqomah dan Ikhlas dalam Riyadhoh serta dalam Sedekah. Karena tidak ada orang menjadi miskin setelah bersedekah. Justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Seringkali seseorang berpikir ulang untuk bersedekah. Dengan segala pertimbangan mengenai keuangan dan kebutuhan ekonomi yang harus di dahulukan. Untuk mencukupkan kebutuhan ekonomi semua sudah ada alokasi biaya, mulai dari listrik, air, telpon, pulsa handphone, biaya pendidikan, gaji pembantu dan lain sebagainya.

Tetapi pernahkah anda mengalokasikan penghasilan anda untuk sedekah ? Seringkali yang terjadi seseorang bersedekah apabila ada sisa atau kelebihan rezeki. Itu pun seringkali masih berkurang untuk membeli sesuatu yang berdasarkan keinginan bukan karena kebutuhan. Perlu diingat, salah satu sifat manusia adalah tidak pernah merasa cukup. Jika seperti itu terus kapan mau sedekah ?

Lantas berapakah alokasi untuk sedekah? Mohon maaf, saya pribadi setiap bulannya mengalokasikan 10% untuk sedekah dari gaji saya setiap bulan. Dan itu selalu saya dahulukan sebelum saya alokasikan untuk kebutuhan yang lain. Jika ada rezeki lagi, saya sisihkan lagi (bukan sisakan) 10% untuk sedekah. Dan itu saya wajibkan dan paksakan untuk diri saya sendiri. Sedekah koq dipaksa ?

Buat saya pribadi sedekah memang harus dipaksa. Kalau tidak dipaksa saya akan kembali pada sifat manusia saya, yaitu tidak pernah cukup dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Dan Alhamdulillah dengan cara seperti itu selama ini Allah selalu mencukupkan rezeki saya dan melancarkan urusan saya.

Di dalam bersedekah pun juga harus istiqomah atau berkesinambungan, jangan menunggu ada rezeki baru sedekah. Kalau seperti itu tetap saja tidak akan pernah kesampaian untuk bersedekah. Hal seperti ini juga salah satu yang menghambat dan menutup rezeki.  Jangan menunda-nunda sedekah. Karena sedekah memang harus disegerakan.

Tentunya anda pernah berpikir seperti ini, “ saya sudah bersedekah tetapi mengapa rezeki, keuangan dan ekonomi saya belum berubah ? “ Pikiran semacam ini-lah yang sebenarnya menghambat jalan rezeki dan menutup pintu rezeki anda sendiri. Karena jika anda tidak Ikhlas bersedekah, Allah pun juga tidak Ridho dengan sedekah anda. Jadi, jangan pernah mengingat-ingat setiap sedekah yang anda keluarkan. Selesai bersedekah segera lupakan !

Sedikit dan sebanyak apa pun harta dan rezeki yang kita miliki itu adalah titipan Allah, yang mana sebagian adalah menjadi hak hamba Allah yang lain yang wajib disalurkan salah satunya melalui sedekah. Dengan sedekah berarti kita sudah mensucikan harta dan rezeki pemberian Allah. Jadi sucikanlah harta dan rezeki anda dengan bersedekah.

Selain itu sedekah adalah bagian dari Investasi Dunia dan Akhirat. Dimana tentunya bila kita investasi tentunya akan ada sebuah keuntungan atau pun kebaikan yang akan di dapat. Demikian pula dalam bersedekah Allah tentu juga akan membalas dari setiap sedekah yang kita keluarkan. Kejarlah Akhiratmu maka Kau dapatkan Duniamu, tetapi tidak berlaku untuk sebaliknya.

Sudahkah anda bersedekah hari ini ?

Man Jadda Wa Jada ; Barang siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil !

Semoga bermanfaat…

Bagikan tulisan ini kepada teman – teman anda melalui Twitter, Facebook dan Email.

Sumber Info : Rahasia Riyadhoh Ayat Kursi